andai saja aku mampu mengulang waktu
aku tak akan memperburuk diriku yang sudah hina di matanya
takkan ada hati yang hancur menjadi serpihan debu
takkan ada menuai keluluhlantakkan
takkan ada menanam peri tak terkira
angin kering kerontang menyelimuti raga yang dihunjam parang
akulah parang itu, akulah angin itu
sang pendosa yang ingin sempurna
Breath Free
Take a deep breath....
Senin, Juli 02, 2012
Minggu, Juli 01, 2012
Apa dan siapa
siapakah aku?
meragu, mencekam jiwa yang rapuh
sungguhkah aku tak punya hati?
sungguhkah aku tak punya rasa?
apakah aku?
meragu, mencekam jiwa yang rapuh
sungguhkah aku tak punya hati?
sungguhkah aku tak punya rasa?
apakah aku?
Selasa, November 08, 2011
untuk beberapa saat...waktu terhenti
mendendangkan ribuan godam menghujam ulu hatiku
untuk beberapa saat...waktu terhenti
mencabut segala rasa di hati
membuat rasaku mati...sendiri...
untuk beberapa saat....waktu terhenti
menderaskan tangis kepedihan, dan mengeringkannya kembali hingga kerontang
seperti kemarau panjang tak berkesudahan
untuk kemudian...aku harus kuat
ketangguhan dalam arti yang sebenarnya
tak lagi ada kepura-puraan yang menyesatkan
menyakiti hati setiap nafas yang berhembus di dekatku
meski untuk berkali-kali rasa yang kupunya dihidupkan
dan ditenggelamkan kembali oleh jiwa yang merana
untuk beberapa saat dalam hidupku
luka meluka begitu sempurna
mendendangkan ribuan godam menghujam ulu hatiku
untuk beberapa saat...waktu terhenti
mencabut segala rasa di hati
membuat rasaku mati...sendiri...
untuk beberapa saat....waktu terhenti
menderaskan tangis kepedihan, dan mengeringkannya kembali hingga kerontang
seperti kemarau panjang tak berkesudahan
untuk kemudian...aku harus kuat
ketangguhan dalam arti yang sebenarnya
tak lagi ada kepura-puraan yang menyesatkan
menyakiti hati setiap nafas yang berhembus di dekatku
meski untuk berkali-kali rasa yang kupunya dihidupkan
dan ditenggelamkan kembali oleh jiwa yang merana
untuk beberapa saat dalam hidupku
luka meluka begitu sempurna
Jumat, November 04, 2011
aku seorang diri
mendekam dalam sunyi
tlah kubawa segala pedih hati
cintaku tlah pergi
meninggalkanku sendirian dalam duri
aku kini tak lagi punya hati
yang utuh untuk kubagi bersama yang tlah pergi
hatiku hancur berkeping-keping
hidupku kini tiada berarti
sungguh rasanya luluh lantak
hingga tak lagi kurasakan ujung jari
yang bersayatkan luka hati
segalanya memudar
tak lagi berpendar
mendekam dalam sunyi
tlah kubawa segala pedih hati
cintaku tlah pergi
meninggalkanku sendirian dalam duri
aku kini tak lagi punya hati
yang utuh untuk kubagi bersama yang tlah pergi
hatiku hancur berkeping-keping
hidupku kini tiada berarti
sungguh rasanya luluh lantak
hingga tak lagi kurasakan ujung jari
yang bersayatkan luka hati
segalanya memudar
tak lagi berpendar
Jumat, Oktober 21, 2011
Gelisah Hati
suara-suara ini berkecamuk dalam hatiku
aku kuat karenamu
pun aku rapuh karenamu
sungguh ku tak ingin kau pergi
rasanya hidupku direnggut kembali jika kau pergi
meski kadang hatiku meliar
menghalau air mata dengan tegar
aku bukanlah apa-apa tanpamu
aku kuat karenamu
pun aku rapuh karenamu
sungguh ku tak ingin kau pergi
rasanya hidupku direnggut kembali jika kau pergi
meski kadang hatiku meliar
menghalau air mata dengan tegar
aku bukanlah apa-apa tanpamu
Rasa Sunyi
aku kini menjalin sunyi
mengasihi hati yang sendiri
dimanakah rasa itu
rasa yang pernah membangkitkan aku dari mati
aku terluka
aku terlunta
mengasihi hati yang sendiri
dimanakah rasa itu
rasa yang pernah membangkitkan aku dari mati
aku terluka
aku terlunta
Rabu, Oktober 12, 2011
Bintang dan Ilalang
hapuskanlah air mata ini Tuhan
tidurkanlah aku bersama gugusan bintang
tenangkan hatiku bersama sang rembulan
jangan suguhkan aku mimpi yang berulang
biarkan ilalang membisikkan nyanyian malam
yang syahdu untukku seorang
biarkan sentuhannya menghalau temaram
menepis asa kelam yang membuatku meregang
tidurkanlah aku bersama gugusan bintang
tenangkan hatiku bersama sang rembulan
jangan suguhkan aku mimpi yang berulang
biarkan ilalang membisikkan nyanyian malam
yang syahdu untukku seorang
biarkan sentuhannya menghalau temaram
menepis asa kelam yang membuatku meregang
Langganan:
Postingan (Atom)